Di tengah gempuran olahraga modern, tradisi panahan masih bertahan di Desa Pandeyan melalui tangan Bapak Ugik Hernawan. Melalui Osman Archery, ia mengembangkan keterampilan membuat anak panah secara teliti di rumahnya sendiri. Sementara itu, adiknya turut berperan dalam pembuatan busur sehingga keduanya saling melengkapi dalam menghasilkan perlengkapan panahan.
Kayu dipotong, dibentuk, lalu dihaluskan sebelum dirakit menjadi anak panah yang siap
digunakan. Beberapa tahap masih dikerjakan manual, sementara sebagian lain menggunakan mesin, namun keduanya tetap membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi agar kualitas terjaga. Dengan cara ini, karya yang dihasilkan tetap mempertahankan nuansa tradisional meski mengikuti perkembangan zaman.
Keberadaan Osman Archery memperlihatkan bahwa keterampilan membuat perlengkapan panahan masih melekat dalam kehidupan masyarakat desa. Dari rumah yang sederhana, karya Bapak Ugik hadir sebagai contoh bagaimana tradisi dapat berjalan seiring dengan inovasi, tanpa kehilangan jati diri.
Kehadiran Osman Archery menjadi bukti bahwa warisan keterampilan panahan masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Dari Desa Pandeyan, semangat menjaga budaya panahan terus dipertahankan, sekaligus membuka peluang bagi generasi muda untuk lebih mengenal dan mencintai olahraga tradisional ini.
